Penalaran Induktif dan Penalaran Deduktif

Penalaran adalah kemampuan untuk menyampaikan ide dan pemikiran menjadi sebuah argumen. Masing masing diri kita menggunakan pemikiran ditempat kerja maupun dalam kehidupan sehari hari entah itu kita membuat keputusan besar atau hanya mempertimbangkan untuk menyelesaikan tugas.Meskipun banyak penalaran dilakukan secara sadar, Kita juga menggunakan keahlian penalaran ini secara tidak sadar.

Terdapat dua jenis penalaran yang paling utama yaitu penalaran induktif dan penalaran deduktif.  Dalam artikel ini kita akan mendefinisikan masing masing jenis penalaran dan bagaimana anda menggunakan keduanya di tempat kerja  dan selama proses rekrutmen.

Definisi dari penalaran induktif

Penalaran induktif juga biasa disebut sebagai penalaran sebab-akibat, adalah tindakan menggunakan skenario tertentu untuk membuat kesimpulan menyeluruh dari skenario tersebut. Tindakan ini juga bisa disebut pendekatan “bottom up”. Contoh, jika anda melihat kakak perempuan anda rapi dalam berpakaian, begitu juga ibu anda dan teman kakak perempuan anda. Jika anda menggunakan penalaran indukif, maka anda akan menyimpulkan bahwa semua perempuan yang usianya lebih tua daripada anda adalah orang yang rapi dalam berpakaian.

Definisi dari penalaran deduktif

Penalaran deduktif adalah tindakan pembuatan pernyataan yang berdasar dari skenario atau informasi tertentu. Dalam hal pengambilan kesimpulan, metode ini juga bisa disebut sebagai pendekatan “top down”. Contoh, jika ada pernyataan bahwa “semua apel adalah buah” lalu anda mendapatkan informasi baru bahwa “semua buah tumbuh di pohon”. Maka anda dapat menyimpulkan bahwa apel tumbuh di pohon. Contoh lain dari penalaran deduktif adalah:

Jika A= B dan B=C, maka A=C.

Perbedaan antara penalaran induktif dan penalaran deduktif

Pada dasarnya penalaran deduktif dan penalaran induktif adalah dua cara yang berlawanan untuk mengambil sebuah kesimpulan atau dasar. Penalaran induktif diawali dengan hasil observasi, yang mana kumpulan hasil observasi tersebut akan membentuk pola dan pola tersebut yang akan dijadikan kesimpulan aatu teori. Sementara penalaran deduktif dimulai dengan teori, lalu disusul dengan observasi untuk kemudian menghasilkan konfirmasi dari teori tersebut diawal.

Penalaran induktif berdasarkan pola dan trend sedangkan penalaran deduktif berdasarkan fakta dan teori. Penalaran induktif mengalir dari spesifik ke umum sementara penalaran deduktif berputar sebaliknya, dari umum ke spesifik atau khusus. Anda bisa jadi menggunakan penalaran induktif ketika anda berusaha memahami bagaimana sebuah mesin bekerja dengan mengamati mesin tesebut berhari hari. Disisi lain, anda bisa menggunakan penalaran deduktif ketika anda berusaha mengerti bagaimana hubungan antara satu faktor dengan faktor yang lain.

Menggunakan penalaran di tempat kerja

Baik penalaran deduktif maupun penalaran induktif penting untuk digunakan ketika bekerja sama dengan rekan kerja ditempat kerja. Entah anda sadari atau tidak, anda secara konsisten menggunakan dua jenis penalaran tadi untuk membuat sebuah kesimpulan,keputusan dan menciptakan ide di dunia kerja. Berikut ini beberapa situasi yang bisa jadi anda menggunakan penalaran induktif maupun deduktif:

Contoh penalaran induktif:

  • Memilih berangkat kerja atau tidak saat jalanan sedang macet
  • Merilis proses akunting terbaru yang berdasarkan cara planggan memakai software anda
  • Menentukan jumlah pekerja yang mendapatkan insentif berdasarkan hasil kinerja mereka
  • Merubah jadwal rapat karena tim anda sudah lelah

Contoh penalaran deduktif:

  • Membuat perencanaan pemasaran yang sesuai dengan karakter pelanggan
  • Mendesain tata ruang café untuk meningkatkan kunjungan
  • Membuat anggaran belanja bulanan berdasarkan teori perencanaan keuangan
  • Membuat keputusan mengenai cara paling efektif untuk berkomunikasi dengan konsumen

Menggunakan penalaran selama proses rekrutmen tenaga kerja

Perusahaan menghargai kandidat yang mampu berpikir logis dan terperinci untuk emgatasi sebuah masalah dan memberikan solusi atas masalah tersebut. Oleh karena itu menunjukkan kmampuan penalaran dan kemampuan menyelesaikan masalah yang anda miliki selama proses rekrutmen dapat meningkatkan daya saing anda. Kemampuan ini tidak perlu ditulis dalam bagian ‘keahlian’ dalam CV anda, melainkan harus anda jabarkan di bagian pengalaman kerja anda. Selain itu anda juga dapat menggunakan penalaran ini saat menjawab pertanyaan wawancara.

Anda dapat menggunakan pengalaman anda semasa sekolah atau kuliah yang anda pikir menggunakan penalaran sebagai bahan yang bisa anda tulis di surat lamaran kerja anda. Jika hasil dari solusi anda dapat dihitung, tulislah hasil tersebut dalam bentuk angka.

Contoh, anda bisa saja dengan penalaran deduktif yang anda miliki menyimpulkan bahwasanya untuk berhasil menjual lebih banyak dan efektif, tim penjualan perusahaan anda harus fokus pada pelanggan dengan pembelian yang besar dan bukan pada pelanggan yang melakukan pembelian yang sedikit. Pada surat lamaran kerja atau CV anda, anda dapat menulis:

“Mengusulkan strategi penjualan baru yang meningkatkan penjualan tahunan hingga 23%”

Bersiaplah untuk mendapatkan panggilan wawancara jika anda menulis dua atau tiga cerita yang menggunakan penalaran deduktif maupun induktif dan berdampak positif pada perusahaan anda.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *